Desain Kekuatan Sambungan Geser Tunggal Menggunakan Paku pada Lima Jenis Kayu Indonesia
Disusun Oleh :
1. Riezky Rakamuliawan Sutanto
2. Sucahyo
3. Naresworo Nugroho
1. Riezky Rakamuliawan Sutanto
2. Sucahyo
3. Naresworo Nugroho
ABSTRAK
Standar Nasional Indonesia (SNI) 7973 (2013) adalah standar
yang umum digunakan dalam penentuan konstruksi kayu di Indonesia. Dalam SNI-7973
terdapat cara penentuan nilai desain sambungan kayu secara teoritis yang saat
ini masih mengadopsi nilai-nilai yang diperoleh dari National Desain
Specification (NDS) (2012). NDS sendiri disusun berdasarkan sifat-sifat kayu
berdaun jarum yang umum digunakan di Amerika. Nilai-nilai yang diadopsi
tersebut tentunya meningkatkan resiko ketidaksesuaian jika digunakan langsung
di Indonesia, hal ini karena Indonesia sebagai negara tropis memilki kayu
dengan rentang berat jenis yang lebih besar dan didominasi oleh kayu berdaun
lebar dengan struktur anatomi yang berbeda. Penelitian ini membandingkan nilai desain
sambungan kayu yang diperoleh dari pengujian secara empiris dengan nilai desain
sambungan yang dihasilkan secara teoritis berdasarkan SNI-7973 dan Eurocode 5
(EC-5) (2004). Hasil penelitian menunjukan nilai desain sambungan kayu terendah
diperoleh pada sambungan kayu Paraserienthes falcataria menggunakan paku 10 cm sebesar
53.66 kgf dan nilai tertinggi diperoleh pada sambungan kayu Shorea laevifolia
menggunakan paku 15cmsebesar 149.89 kgf. Penentuan nilai desain teoritis
SNI-7973 menghasilkan nilai lebih rendah sebesar 13.65% sedangkan EC-5
menghasilkan nilai lebih tinggi 8.87% dibandingkan nilai yang diperoleh pada
pengujian empiris.
Kata-kata Kunci:
Nilai desain, eurocode 5, SNI-7973, sambungan kayu geser tunggal.
1.
Pendahuluan
Saat
ini kayu masih menjadi bahan baku konstruksi yang diminati oleh masyarakat di
Indonesia. Beberapa nilai positif yang membuat kayu disukai adalah mudah
dikerjakan, memiliki kekuatan yang cukup dan memiliki nilai estetika tinggi.
Sebagai bahan konstruksi, kayu dapat digunakan untuk membuat berbagai macam
struktur dari struktur dengan skala kecil sampai dengan besar. Agussalim (2010)
menyatakan saat ini kayu yang ada di pasaran memiliki keterbatasan dalam
ukuran, baik lebar maupun bentangnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh kayu
sebagai bahan alami yang pertumbuhannya terbatas dan efisiensi dalam hal
pengangkutan. Salah satu cara mengatasi keterbatasan kayu dalam hal ukuranadalah
sambungan kayu. Tular dan Idris (1981) menyatakan sambungan merupakan titik
terlemah dari suatu konstruksi sehingga membutuhkan metode yang tepat dalam
menyambung agar dapat menerima dan menyalurkan gaya yang bekerja kepadanya.
Surjokusumo, et al.(1980) menyatakan kekuatan sambungan kayu sangat dipengaruhi
oleh komponen pembentuk sambungan, yaitu balok kayu yang akan disambung, alat
sambung dan bentuk sambungan.
Salah
satu tipe alat sambung yang umum digunakan untuk menyambung kayu di Indonesia
adalah alat sambung tipe dowel. Dowel adalah alat sambung mekanik dengan bentuk
berpenampang bulat.Beberapa contoh alat sambung dowel antara lain adalah paku,
baut, dan pasak. Di Indonesia paku menjadi alat sambung yang populer digunakan
karena memiliki berbagai kelebihan antara lain harganya murah, pemasangan
mudah, sambungan bersifat kaku dan memiliki kekuatan cukup. Sudah banyak
penelitian yang dilakukan tentang sambungan kayu seperti yang dilakukan oleh
Awaludin,et al.(2007), Sandhaas, et al.(2013), dan Hassan, et al.(2013) yang
menyatakan bahwa sambungan kayu dipengaruhi oleh berat jenis kayu, kadar air
kayu, diameter dowel, dan arah pembebanan. Sadiyo (2011) menyatakan nilai
desain lateral sambungan kayu ganda dengan plat besi mengalami peningkatan seiring
dengan meningkatnya berat jenis, kerapatan, dan diameter alat sambung.
Sejauh
ini penentuan nilai desain sambungan kayu tidak hanya dapat dilakukan dengan
melakukan pengujian empiris, tetapi juga dapat diperoleh secara teoritis.
SNI-7973 (2013) sebagai standar yang umum digunakan oleh peneliti dan desainer
konstuksi kayu di Indoneia menyediakan formula matematis dan nilai-nilai yang
dapat digunakan untuk menghitung nilai desain suatu sambungan secara teoritis.
Formula dan nilai-nilai tersebut bila dilihat lebih lanjut merupakan adopsi
dari National Design Specification (NDS) (2012) dalam AWC (2012). NDS adalah
standar penentuan konstruksi kayu yang digunakan di Amerika.Pada standar
tersebut nilai-nilai dan formula matematis didalamnya disusun berdasarkan nilai
alat sambung dan jenis kayu yang umum digunakan di Amerika. Hal ini tentunya
meningkatkan potensi ketidaksesuaian terhadap nilai-nilai yang tertera pada
SNI-7973 (2013), karena Indonesia sebagai negara beriklim tropis didominasi
oleh kayu berdaun lebar, memiliki variasi jenis yang lebih banyak, dan rentang
berat jenis yang lebih lebar.
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mempelajari perilaku dan mengevaluasi pengaruh
berat jenis kayu, diameter paku dan kombinasi berat jenis kayu terhadap nilai
desain sambungan kayu tunggal berbagai jenis kayu tropis di Indonesia.
Penelitian ini juga diharapkan dapat mengevaluasi perhitungan nilai desain
sambungan kayu yang ditetapkan berdasarkan SNI-7973 (2013) dengan kondisi
empiris sambungan kayu menggunakan kayu yang umum digunakan di Indonesia.
2.
Bahan dan Metode Penelitian
2.1 Bahan
dan Alat Penelitian
Bahan penelitian yang digunakan adalah lima jenis kayu
Indonesia dengan berat jenis rendah hingga tinggi yaitu : kayu sengon
(Paraserienthes falcataria) mewakili rentang berat jenis 0.3 -0.4, kayu jabon
(Anthocephalus cadamba)bmewakili rentang berat berat jenis 0.4-0.5, kayu
meranti merah (Shorea spp) mewakili rentang berat berat jenis 0.5 -0.6, kayu
mersawa (Anisoptera marginata) mewakili rentang berat berat jenis 0.6-0.7 dan
kayu bangkirai (Shorea laevifolia) mewakili rentang berat berat jenis 0.7 -0.8.
Ukuran kayu yang digunakan pada penelitian ini adalah 6 x 12 x 400 cm, yang
diperoleh dari tempat penjualan kayu yang berada di sekitar kampus IPB Dramaga,
Bogor.
Jenis paku yang digunakan yaitu : paku diameter 0.42 cm
dengan panjang 10 cm, paku diameter 0.47 cm dengan panjang 12 cm dan paku
diameter 0.52 cm dengan panjang 15 cm
Peralatan yang digunakan pada penelitian ini antara lain :
gergaji mesin, gergaji besi, mesin serut, kaliper, timbangan elektrik, oven,
mesin bor, dan UTM (Universal Testing Machine) merek Instron 3379.
2.1 Metode
Pengujian
Pengujian sifat fisis meliputi pengujian kadar air,
kerapatan dan berat jenis kayu berdasarkan British Standart (BS) 373 (1957).
Pengujian sampel sifat fisis dilakukan dengan pengulangan sebanyak 10 kali pada
masing-masing jenis kayu. Penentuan nilai desain sambungan kayu tunggal
menggunakan dua metode yaitu metode teoritis berdasarkan SNI-7973 (2013) dan
Eurocode 5 (EC-5) (2004) dan metode empiris dengan melakukan pengujian langsung
pada sampel sambungan kayu.
Untuk menghitung nilai desain sambungan kayu tunggal secara
teoritis SNI-7973 (2013) telah menyediakan enam jenis formula yang dapat
digunakan. Enam jenis formula tersebut merepresentasikan kemungkinan yang
terjadi pada sebuah sambungan kayu tunggal seperti yang ditunjukan pada Gambar
1. Tabel 1 menyajikan enam formula perhitungan nilai desain sambungan kayu
berdasarkan SNI-7973 (2013). Penentuan nilai kuat lentur paku (F) dan nilai
kuat tumpu paku (F) yang dibutuhkan dalam menghitung nilai desain
teoritismenggunakan nilai dan persamaan yang tertera pada SNI-7973 (2013).
Nilai F paku dengan diameter 0.45 cm sebesar 6328 kg/cm dan paku dengan
diameter 0.46-0.55 cm sebesar 5624 kg/cm. Nilai Fdiperoleh dengan menggunakan
persamaan F= 114.5G, dimanaG adalah berat jenis kayu yang diukur pada kondisi
kadar air dibawah 20%. Penentuan nilai desain sambungan kayu tunggal secara
teoritis menggunakan dimensi balok yang sama dengan penentuan nilai desain
empiris sebesar 40x4.5x5 cm pada masing-masing sisi.
Gambar
1. Mode kerusakan sambungan geser
Tabel 1. Formula perhitungan
sambungan kayu tunggal
SNI-7973 (2013)
Selain
perhitungan nilai desain teoritis menggunakan standar SNI-7973 (2013) yang
merupakan standar yang diadopsi dari NDS yang digunakan di Amerika, pada
penelitian ini juga dilakukan perhitungan nilai desain teoritis dengan
menggunakan standar penentuan konstruksi kayu yang digunakan pada di Eropa
yaitu EC-5 (2004). Penentuan nilai desain menggunakan EC-5 (2004) sama seperti
yang digunakan pada SNI-7973 (2013) yaitu menggunakan enam formula perhitungan
yang telah disediakan. Formula tersebut menggambarkan mode kerusakan yang
diperkirakan terjadi pada sambungan tunggal seperti yang tertera pada Gambar 1.
Nilai yang digunakan sebagai nilai desain adalah nilai terendah dari ke-enam
formula tersebut. Tabel 2 menyajikan enam formula perhitungan menurut EC-5
(2004).
Tabel 2. Formula perhitungan
sambungan kayu tunggal EC-5 (2004)
Pada
EC-5 penentuan nilai leleh lentur paku karakteristik,nilai kuat tumpu
karakteristik dan kapasitas cabut paku karakteristik menggunakan persamaan
empiris yang telah disediakan oleh EC-5. Nilai momen leleh karakteristikpaku
dihitung dengan rumus dimana fu=144.42 N/mm, sedangkan kekuatan benam paku
karakteristik ke dalam kayu dihitung dengan rumus dimana d=diameter paku, dan
G=berat jenis kayu. Nilai kapasitas cabut paku karakteristikdihitung
menggunakan rumus dimana l= penetrasi paku.
Untuk
mengetahui kehandalan formula yang digunakan pada SNI-7973 (2013) dan EC-5
(2004) dalam memprediksi nilai desain sambungan kayu di Indonesia, dilakukan
perbandingan nilai desain sambungan kayu yang diperoleh secara teoritis dengan
nilai desain sambungan kayu secara empiris. Nilai desain sambungankayu tunggal
secara empiris diperoleh denganmelakukan pengujian langsung terhadap sambungan
yang telah di buat (Gambar 2). Sambungan dibuat menggunakan balok kayu
berukuran 40x4.5x5 cm pada masing-masing sisi. Pembebanan tarik dilakukan
dengan target pergeseran 1 cm menggunakan kecepatan 0.1 mm/detik.
Selanjutnya
ditentukan besaran nilai desain empiris sambungan kayu tunggal yang disusun berdasarkan
format ASD (Allowable Stress Design) menggunakan metode statistik sesuai
standar ASTM D 2915-10 (2010). Nilai hasil pengujian sambungan kayu dihitung
dengan melakukan perpotongan grafik beban-defleksi dengan garis linier offset
5% diameter alat sambung. Kemudian nilai tersebut disusun distribusinya sebagai
distribusi normal dan dicari nilai kekuatan karakteristiknya (5% Exclusion
Limit). Untuk dapat dibandingkan dengan nilai desain teoritis dilakukan
penyesuaian berupafaktor durasi beban dan kadar air. Besarnya nilai kekuatan
nilai desain empiris dapat dihitung dengan rumus:
2.2 Rancangan
Percobaan dan Analisis Data
Untuk melihat pengaruh berat jenis kayu, diameter paku dan
kombinasi berat jenis kayu terhadap nilai desain sambungan kayu, maka data
hasil pengamatan diolah dan dianalisis menggunakan metode statistik rancangan
acak lengkap faktorial.Sebagai perlakuan yaitu faktor A (kombinasi jenis kayu)
terdiri dari 15 variasi yang tertera pada Tabel 3, B (diameter paku) terdiri
dari 3 variasi B= paku 0.42 cm, B= paku 0.47 cm dan B= paku 0.52 cm. Dalam
setiap satuan percobaan dilakukan tiga kali ulangan sehingga jumlah keseluruhan
sampel yang diuji adalah 135 buah sambungan kayu. Model matematika yang
digunakan untuk rancangan ini adalah :
3.
Hasil dan Pembahasan
3.1 Sifat
Fisis
Salah satu karakteristik kayu
sebagai bahan alami adalah bersifat higroskopis, menyesuaikan dengan kondisi
sekitarnya kayu dapat menyerap dan melepaskanair di dalamnya. Berbagai studi
telah dilakukan tentang hubungan kadar air dengan kekuatan kayu, Haygreen dan
Bowyer, et al.(1996) menyatakan tingginya nilai kadar air didalam kayu
berbanding terbalik dengan kekuatan kayu, karenanya nilai kadar air menjadi
salah satu parameter yang penting untuk diperhatikan dalam hubungan kayu untuk
menerima beban. Pada penelitian ini seluruh contoh uji yang digunakan
dikondisikan di bawah nilai kadar air kering udara daerah penelitian yang
bertempat di Bogor -Indonesia yaitu sebesar 19%. Gambar 3 menunjukan nilai
kadar air kayu yang digunakan dalam penelitian.
Nilai kadar air tertinggi diperoleh
kayu mersawa dengan rata-rata sebesar 19.04% dan terendah pada kayu bangkirai
dengan rata-rata sebesar 15.35%. Meskipun sudah dilakukan tindakan pengeringan
yang sama masih terdapat perbedaan nilai kadar air diantara kelima kayu yang
digunakan, hal ini terkait dengan kemampuan dari masing-masing kayu untuk
melepas air. Suhardianto (2013) menyatakan keluarnya air dari dalam kayu
dipengaruhi oleh karakteristik anatomi penyusun kayu, kandungan zat ekstraktif,
dan tilosis yang ada dalam kayu selain ukuran ketebalan dinding sel kayu itu
sendiri.
Sama seperti kadar air, kerapatan
dan berat jenis kayu memiliki peranan yang penting dalam hubungannya dengan
kekuatan. Kerapatan dan berat jenis kayu berbanding lurus dengan kekuatannya.
Pada penelitian ini pemilihan jenis kayu di desain dengan menggunakan lima
rentang berat jenis kayu tropis dari kayu dengan berat jenis rendah sampai kayu
dengan berat jenis tinggi sebagaimana tertera pada Gambar 4. Dari Gambar 4 juga
dapat diketahui bahwa kerapatan lima jenis kayu yang digunakan lebih tinggi
daripada berat jenisnya, hal ini dikarenakan adanya perbedaan kadar air pada
saat dilakukan pengukuran. Nilai berat jenis kayu terendah terdapat pada kayu
sengon dengan nilai rata-rata sebesar 0.33 dan terbesar pada kayu bangkirai
sebesar 0.80.
3.2 Nilai
Desain
3.2.1
Nilai Desai Rujukan Teoritis SNI-7973 (2013)
Penentuan nilai desain rujukan
teoritis (Z) berdasarkan SNI-7973 (2013) menggunakan formula dan variabel kunci
yang telah disediakan. Variabel pendukung yang digunakan pada formula
menyesuaikan dengan dimensi kayu, berat jenis kayu dan diameter paku yang sama
dengan penentuan nilai desain empiris. Gambar 5 menyajikan hasil penentuan
nilai Z teoritis berdasarkan SNI-7973 (2013). Nilai Z terendah diperoleh pada
sambungan yang menggunakan kayu sengon pada kedua sisi dengan paku 0.42 cm
sebesar 45.88 kgf sedangkan nilai Z tertinggi diperoleh pada sambungan dengan
kayu bangkirai di kedua sisinya dengan paku 0.52 cm sebesar 125.16 kgf. Dari
Gambar 5 dan Gambar 6 dapat diketahui bahwa nilai desain rujukan teoritis
SNI-7973 (2013) berbanding lurus dengan berat jenis kayu, dan diameter paku.
Semakin tinggi berat jenis kayu dan semakin besar diameter paku yang digunakan
akan menghasilkan nilai desain rujukan yang semakin tinggi berdasarkan SNI-7973
(2013). Fenomena ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ziannita
(2009) yang melaporkan kecenderungan yang sama.
Pada
sambungan kayu tunggal, SNI-7973 (2013) menyediakan enam formula perhitungan
nilai desain berdasarkan mode kerusakan yang akan terjadi ketika diberikan
pembebanan. Dari enam formula perhitungan yang digunakan nilai terendah
diperoleh pada mode ke IV pada seluruh sambungan, dimana pada mode ini terjadi
kerusakan pada paku dan pada kedua bagian kayu (Gambar 7). Penentuan nilai Z
berdasarkan SNI-7973 (2013) menggunakan nilai terendah yang diperoleh pada
seluruh mode sebagai nilai yang digunakan dalam perencanaan sebagai
faktorkeamanan. Mode dengan nilai Z terendah digunakan karena pada mode
tersebut diprediksi akan terjadi kerusakan pada sambungan kayu terlebih dahulu
dibandingkan dengan metode lainnya.
3.2.2
Nilai Desain Rujukan Teoritis Berdasarkan Eurocod 5
EC-5 (2004)
Hasil perhitungan nilai desain
teoritis (Z) berdasarka EC-5 (2004) per masing-masing ukuran paku disajikan
pada Gambar 8. Sama seperti nilai Z menurut SNI-7973 (2013), nilai Z EC-5
(2004) terendah diperoleh pada sambungan kayu sengon dengan kayu sengon
menggunakan paku 0.42 cm sebesar 60.80 kgf dan nilai tertinggi pada sambungan
kayu bangkirai dengan kayu bangkirai menggunakan paku 0.52 cm sebesar 137kgf
Secara
umum penentuan nilai Z berdasarkan SNI-7973 (2013) dan EC-5 (2004) menunjukan
kecenderungan yang sama. Semakin tinggi kombinasi berat jenis sambungan kayu
maka semakin besar nilai Z yang dihasilkan. Selain berat jenis kayu, diameter
paku juga turut menentukan nilai Z . Gambar 9 menunjukan nilai Z EC-5 (2004)
berdasarkan ukuran paku pada seluruh sambungan. Semakin besar diameter paku
nilai Z yang dihasilkan akan semakin tinggi dengan koefisien determinasi
mencapai 0.99. Pada penentuan nilai Z berdasarkan EC-5 (2004) nilai terendah
diperoleh pada mode F, dengan kerusakan terjadi pada paku dan pada kedua bagian
kayu.
3.2.3
Nilai Desain Empiris
Nilai desain (Z) empiris sambungan
kayu diperoleh dengan cara melakukan pengujian langsung terhadap sambungan kayu
yang telah dibuat. Nilai Z empiris diperoleh dengan cara menentukan titik
perpotongan dari kurva beban -defleksi terhadap garis garis offset 5% diameter
paku(Gambar 10). Dalam Tjondro (2007), metode ini diadopsi dari teori batas
leleh yang diperkenalkan Johansen yang dapat diaplikasikan pada berbagai
material. Hasil pengujian nilai desain empiris dapat dilihat pada Gambar 11.
Hasil pengujian nilai Z empiris menunjukan kecenderungan yang sama dengan pengujian
nilai desain teoritis berdasarkan SNI-7973 dan EC-5 (2004), semakin tinggi
berat jenis kayu yang digunakan semakin tinggi nilai pula yang dihasilkan.
Besarnya diameter paku yang digunakan juga mempengaruhi nilai Z empirisyang
dihasilkan. Hubungan diameter paku dengan nilai Z empiris disajikan pada Gambar
12.

Serupa
dengan nilai desain teoritis SNI-7973 (2013) dan EC-5 (2004), metode penentuan
nilai desain empirismenunjukkan kecenderungan yang sama dengan koefisien
determinasi sebesar 0.97. Semakin besar ukurandiameter paku maka nilai Z
empiris yang dihasilkan semakin besar. Pengujian statistik dilakukan untuk
melihat pengaruh dari berat jenis dan ukuran alat sambung. Hasil pengujian
statistik menunjukan bahwa interaksi antara kombinasi jenis kayu dan ukuran paku
tidak berpengaruh nyata terhadap hasil nilai desain empiris. Sedangkan untuk
faktor kombinasi jenis kayu dan ukuran paku yang menunjukan pengaruh signifikan
terhadap nilai kuat tumpu.

3.3
Perbandingan Nilai Desain Teoritis dan Empiris
Penentuan
nilai desain secara teoritis dibuat untuk memudahkan perencana konstruksi kayu
dalam mendesain bangunan kayu. Dengan penentuan nilai desain teoritis, peneliti
tidak pelu melakukan pengujian destruktif untuk dapat mengetahui kapasitas
struktur sambungan kayu. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan nilai
desain teoritis berdasarkan SNI-7973 (2013) dan EC-5 (2004) dengan nilai desain
empiris untuk dapat mengetahui kehandalan formula dan variabel yang digunakan
dalam penentuan nilai desain. Perbandingan antara nilai desain teoritis dan
empiris disajikan pada Gambar 13.Seluruh model sambungan kayu yang dihitung
berdasarkan SNI-7973 (2013) menghasilkan nilai yang lebih rendah dibandingkan
penentuan nilai desain berdasarkan EC-5 (2004) maupun empiris (Gambar 13).
Perbedaan nilai desain yang diperoleh secara teoritis pada SNI-7973 (2013) dan
EC-5 mungkin terjadi karena perbedaan faktor keamanan yang ditetapkan pada
kedua formula tersebut, hal ini terkait kebijakan masing-masing Negara dalam
menentukan besaran faktor keamanan.

Hal
lain yang menyebabkan perbedaan nilai desain teoritis antara SNI-7973 (2013)
dengan EC-5 (2004) adalah dasar penentuan variabel yang digunakan. Hal ini
diungkapkan oleh Almeida dan Dias (2016) yang menyatakan penentuan nilai
Femenutur NDS (2012) yang diacu oleh SNI-7973 (2013) menggunakan batas leleh 5%
offset diameter sedangkan EC-5 (2004) menggunakan nilai maksimum, perbedaan ini
juga menjelaskan kenapa nilai Z berdasarkan EC-5 (2004) lebih besar pada semua
sambungan dibandingkan SNI-7973. Pada dasarnya nilai desain secara teoritis
harus selalu lebih rendah daripada nilai desain aktual, hal ini dikarenakan
ekspektasi berlebih dalam penentuan kekuatan bahan berbahaya bagi struktur.
Ketika struktur diharapkan mampu menopang beban yang lebih besar dari yang sebenarnya
dapat ditopang bukan tidak mungkin struktur akan rusak akibat beban. Tabel 4 menyajikan
selisih nilai desain secara teoritis dan empiris. Selisih nilai desain pada
Tabel 4 menunjukan perbedaan nilai desain secara teoritis dengan nilai desain
empiris yang dianggap sebagai kapasitas
sambungan yang sebenarnya. Perhitungan mengikuti SNI-7973 (2013) menunjukkan
terjadinya depresiasi nilai sebesar13.65%, sedangkan menggunakan EC-5 (2004)
terjadi over-Estimate nilai desain sebesar -8.87%. Walaupun memiliki selisih
pendugaan yang lebih besar, SNI-7973 (2013) dapat menjadi prediktor yang lebih
baik dalam menentukan nilai desain sambungan dibandingkan EC-5 karena nilai
yang diperoleh menggunakan EC-5 (2004) lebih besar daripada nilai desain
sebenarnya.

Komentar
Posting Komentar